FEATURED POST

"Ummi, dalam kenanganku..."

♥️ Walaupun aku tak tahu masa remajamu, aku yakin engkau adalah gadis cantik-manis-shalihah nan <em>qurrata a'yun</em>, dan engkau seorang yang penurut &amp; berbakti kepada kedua orangtua (cocok lah sama testimoni kakakmu, pak H Ukan Sukanda saat engkau masuk liang lahat), sehingga ketika kedua orangtuamu menjodohkanmu di saat engkau masih belia, engkau tidak menolak, padahal calon suamimu bukanlah laki-laki super tampan kayak Aliando bukan pula anak seorang konglomerat kayak Ardi Bakrie, ia hanya seorang yatim yang hidup dari pondok ke pondok. Kalau boleh saya lukiskan, engkau seperti Sayyidah 'Aisyah putri Abu Bakar!

Dan syukurlah pilihan kedua orangtuamu itu tidak salah, karena ia laki² sejati berdedikasi kelas jempolan, yang menjadi guruku...

♥️ Ketika telah menikah, engkau tidak berubah, engkau tetap menjadi seorang istri yang penurut &amp; taat kepada suami, engkau rela diajak hidup prihatin untuk mengejar cita-cita sang suami, dari menemani suamimu mondok di pesantren Al-Jawami, lalu merintis sebuah pesantren yang diidam-idamkannya.
Aku tahu, Mi! engkau tidak dimanja oleh suami, bahkan engkau sempat diduakan...tapi engkau ridha... Aku salut, Mi!
Sebelum engkau dipanggil menghadap Tuhanmu, engkau telah sukses menemani sang suami dalam meraih cita-citanya dengan berdirinya sebuah pondok pesantren yang cukup besar &amp; representatif.
Hebat engkau, Mi...!

♥️ Ummi, engkau begitu berarti dan sempurna dimataku dan mungkin di mata para santri yang lain.
Saat aku diperlakukan dalam didikan super keras suamimu di pondok, engkau tak segan tampil menjadi pembela &amp; penyemangatku...! Andai saja tidak ada sentuhanmu, mungkin aku sudah kabur... Ya, engkaulah yang membuatku bisa bertahan di pondok hampir sepuluh tahun lamanya...
<em>Nuhuuun Ummiiii!</em>

♥️ Walaupun aku masih berharap Ummi tetap menemani sang suami di masa tuanya, tapi Allah berkehendak lain, Dia telah memanggilnya lebih awal.
Dan kini, wanita mulia itu telah pulang ke kampung halamannya yang abadi dan beristirahat dari kelelahan dunia...
Allah berfirman:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
<em>"Dan setiap umat mempunyai ajalnya. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun".</em>
(Qs. Al-A'raf/7: 34)

Ummiiii... Aku hanya mampu berkata:
إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ، اللهم اكْتُبْها عِنْدَكَ فِي المُحْسِنِيْنَ، وَاجْعَلْ كِتَابَها فِي عِلِّيِّيْنَ، وَاخْلُفْها فِي أَهْلِها فِي الغَابِرِيْنَ، وَلاَتَحْرِمنَا أَجْرَها وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَها

<em>"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah kami kembali. Ya Allah, tuliskanlah ia di sisi-Mu termasuk golongan orang² yang baik. Jadikanlah catatannya di ‘illiyyin. Berikanlah ganti kepada keluarga yang ditinggalkan. Janganlah engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya".</em>

♥️ Selamat jalan Ummiku... Do'aku menyertaimu...
Ummi! InsyaAllah, engkau akan mendapatkan jamuan istimewa di alam Barzah... akan menerima buku catatan amal dari sebelah kanan... InsyaAllah, Surga sedang menantimu, dan kelak engkau akan menjadi permaisuri suamimu di dalam Surga-Nya Allah!
Ummii, jika engkau tak menemukan aku di dalam Surga, tolong carikan aku di tempat lain...!

آمين يا ربّ العالمين...!

<i>(Tulisan oleh Endang Noor Rachmat, alumni senior dan sekretaris Buya pada zamannya)</i>

&nbsp;

<span style="color: #3366ff;"><a style="color: #3366ff;" href="https://drive.google.com/open?id=1Kontp-o_CTJySHzpI9gb34vNdfI7x7On">Link folder</a></span>

<iframe style="width: 100%; height: 600px; border: 0;" src="https://drive.google.com/embeddedfolderview?id=1Kontp-o_CTJySHzpI9gb34vNdfI7x7On#grid" width="1080" height="1920"></iframe>

“Ummi, dalam kenanganku…” ♥️ Walaupun aku tak tahu masa remajamu, aku yakin engkau adalah gadis cantik-manis-shalihah nan qurrata a’yun, dan engkau seorang yang penurut & b......

Pada tahun 1990, Mihaly Csikszentmihalyi, seorang psikolog Amerika-Hungaria menerbitkan hasil penelitannya terkait kebahagiaan, peningkatan kualitas hidup, dan pemberdayaan potensi dalam bukunya Flow: The Psychology of Optimal Experience. Di dalamnya, penulis berbicara tentang ‘Flow’, keadaan sadar di mana seseorang mengalami kebahagiaan dan keterlibatan mendalam dengan aktifitas atau kejadian dalam hidup; suatu konsep yang bila kita ingin tarik benang merahnya, maka akan bertemu dengan salah satu komponen mental yang tiupkan ruh pada ibadah untuk melebihi posisinya hanya sebagai praktik jasmani, yaitu kekhusyukan.

<a href="http://al-basyariyah.com/wp-content/uploads/2020/05/ASR_5587.jpg"><img class="aligncenter wp-image-62045 size-large" src="http://al-basyariyah.com/wp-content/uploads/2020/05/ASR_5587-1024x683.jpg" alt="" width="640" height="427" /></a>

Pengertian ‘Flow’ sendiri adalah menurut Mihaly adalah “suatu keadaan di mana keterlibatan seseorang dalam sebuah aktifitas begitu mendalam sehingga hal lain nampak tak berarti; pengalaman tersebut pada zatnya begitu menyenangkan hingga orang akan melakukannya demi taruhan sebesar apapun, sekadar karena mereka ingin melakukannya.” Sedangkan khusyuk, terutama dalam shalat, adalah keterlibatan seluruh anggota tubuh, juga rasa tunduk dan tenang dalam hati.

Dari pengertian di atas, kita sudah bisa melihat eratnya kaitan antara ‘Flow’ dengan khusyuk. Memahami nilai-nilai untuk seseorang mencapai ’Flow’ akan membantu kita terjun ke dalam permulaan dari kompleksnya proses latihan khusyuk.

Penulis buku tersebut mengemukakan, bahwa salah satu alasan seseorang tidak bisa menikmati aktifitasnya adalah karena ia terombang-ambing di antara dua titik berjauhan: ‘apathy' (ketiadaan emosi) dan ‘anxiety' (emosi berlebihan). Yang dimaksud dengan ‘apathy’ adalah rasa lesu ketika suatu hal terasa membosankan dan tak berarti, sebaliknya, ‘anxiety’ terjadi ketika sesuatu rasanya terlalu sulit dan curam di atas kemampuan kita.

Contoh skenario tersebut dalam ibadah adalah ketika seseorang berhenti melaksanakan tarawih di bulan Ramadhan. Dalam kategori pertama, seseorang akan menganggap buah dari ibadah sunnah tersebut tidaklah lebih dari lelah fisik, sedangkan pada titik kedua, anggapan bahwa tarawih adalah kegiatan yang sulit berangkat dari nihilnya dorongan spiritual untuk lakukan sesuatu yang tak datangkan kepuasan secara berulang, dengan pengetahuan bahwa tidak ada konsekuensi jika hal itu tidak dikerjakan. Di titik pertama tarawih jadi membosankan, di titik kedua malah terlalu melelahkan.

Lantas bagaimana ‘flow’ bisa tercapai? Beliau mengungkapkan bahwa untuk sampai pada level tersebut, seseorang perlu menemukan titik perbatasan antara ‘apathy’ dan ‘anxiety’ sehingga suatu kegiatan bisa memberikan makna dan tantangan yang seimbang dengan kemampuan kita untuk berbuat. Di antara poin-poin yang relevan dalam konteks ibadah adalah sebagai berikut:

1. Tentukan dan Perjelas Tujuan

Pembicaraan tentang tujuan adalah pembicaraan tentang pilihan sukarela dalam hidup. Ketika sebuah keberlangsungan mengandung keterpaksaan, akan ada kemungkinan pergeseran dari tujuan murni ke tujuan yang bisa saja mengundang dosa.

Contoh sederhana dari tujuan yang bergeser bisa kita ambil dari gelombang hijrah di kalangan anak muda beberapa tahun belakangan. Tiada yang meragukan bahwa hijrah dalam praktiknya adalah hal yang baik, namun ada saja sebagian yang mengikuti tren ini karena ke sanalah arus sosial bermuara. Lebih dari itu, ada pula yang hijrah dengan berbuat baik alih-alih karena itu bisa memperbaiki hidup, orang tersebut malah meyakini bahwa perubahan perilakunya bisa menjadi magnet bagi lawan jenis dambaannya. Jajaran amal saleh dengan niat yang abu-abu bisa antarkannya pada satu tujuan, dalam kasus ini menjebak dambaan hatinya, namun tidak lebih. Mungkin inilah perwujudan dari sabda Rasulullah SAW ‘likulli-mri’in maa nawa’, bahwa perolehan seseorang berbanding lurus dengan niatnya.

Jadi, untuk apa kita tarawih? Apakah karena itu adalah ‘raahah’ bagi jiwa dan raga kita atau karena malu dengan orang serumah? Untuk apa kita bangun di sepertiga malam? Apakah karena sekadar ingin jodoh yang anu atau karena itu jalan mardhaatillah? Untuk apa kita berislam?

2. Pentingnya ‘Feedback'

‘Feedback’ adalah timbal balik dari apa yang kita lakukan. Seseorang yang bisa konsisten melaksanakan produktifitas tertentu dituntun selain oleh tujuan yang jelas, juga oleh timbal balik langsung dari kegiatan tersebut.

‘Feedback’ inilah yang tancapkan tubuh seseorang di atas sofa berjam-jam untuk bermain game, karena timbal balik berupa kemenangan virtual; atau menonton drama saat emosi dimainkan lewat konflik mencekam dan ending yang membuatnya tertegun; atau dalam aktifitas ghibah saat ia menemukan orang yang ternyata satu meja dalam mengritik si fulan. Segala tindakan yang kita pilih berulang dengan penuh kesadaran, baik atau buruknya, tidak terlepas dari timbal balik.

Ketika shalat tidak menerima timbal balik, orang dalam kesendiriannya akan cenderung tergesa-gesa. Shalat bukan lagi sebagai waktu curhat dengan Allah, shalat hanya dilaksanakan karena label wajib. Timbal balik shalat di antaranya adalah ketenangan hati dan kepuasan karena kewajiban bisa ditunaikan dengan baik, yang mengantarkan pada rindu setiap kali beranjak dari sejadah. Timbal balik lain adalah perhatian dan anggapan alim dari orang lain jika memang dasar tujuan ibadahnya buram.

3. Konsentrasi Penuh pada Aktifitas Sekarang

Saat kita berada pada kondisi ‘Flow’, waktu menjadi tidak relevan. Seseorang bisa habiskan ratusan jam karena rindukan kemenangan pada Battle Royale; seorang animator bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk membuat kartun yang durasinya tak lebih dari dua jam; seorang nenek mampu membuat masakkan untuk satu keluarga besar meski yang dilahapnya hanya setengah piring.

‘Flow’ juga adalah kondisi kesadaran sama yang membuat ulama zaman dahulu menghabiskan malam hari untuk beribadah dan menimba ilmu, tanpa khawatir berapa jam waktu tidur yang terpotong atau kapan istirahat itu harus ditebus. Sayangnya, dari kita ada yang menyerah ketika konsentrasi diuji lewat shalat yang hanya dua atau bahkan satu rakaat. Pikiran kita tidak ‘present’ atau betul-betul hadir di masa kini, pikiran kita malah melambung pada khayalan eksternal selain shalat itu sendiri. Kita tidak menyadari syahdunya doa yang dibaca, betapa ayat pendek yang sekadar lewat lisan kita ternyata singgung keburukan kita, atau bahkan lupa rakaat berapa hingga shalat apa. Semua karena anggapan bahwa konsentrasi terlalu melelahkan untuk kegiatan yang dilakukan hanya sebatas kewajiban.

Mihaly mengatakan bahwa efek yang paling signifikan dari keberhasilan seseorang menggenggam konsep ‘Flow’ itu sendiri adalah kemampuan mengubah struktur hidupnya. Secara tidak langsung, yang dikatakannya lewat gagasan ini sangat senada dengan nilai dari potongan surah al-Ankabut ayat 45: “sesungguhnya shalat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” Mungkin inilah jawaban bagi mereka yang heran, mengapa ada orang yang shalat fardhunya rutin namun makisatnya tidak kalah kencang: mungkin ia belum mencoba konsep ‘Flow’ dalam ibadahnya itu.

Khusyuk lebih dari sekadar kondisi jiwa seseorang dalam shalat, khusyuk merupakan salah satu bentuk manifestasi dari matangnya keimanan seseorang. Berbeda dari rukun Islam yang cenderung jasmani, Iman bertempat dalam hati yang terwujudkan bukan hanya lewat lisan saja, namun juga tingginya kualitas perbuatan dan akhlak.

Saat ini, kita mungkin saja tempatkan diri sendiri pada level iman dan taqwa yang rendah. Jika masih bingung harus mulai peningkatan dari mana, memperbaiki shalat bisa jadi permulaan yang baik, dan memahami fraksi dari konsep ‘flow’ di atas kiranya bisa sedikit membantu. Wallah A’lam bisshawab.

Pada tahun 1990, Mihaly Csikszentmihalyi, seorang psikolog Amerika-Hungaria menerbitkan hasil penelitannya terkait kebahagiaan, peningkatan kualitas hidup, dan pemberdayaan potensi dalam bukunya Flow:......

<img class="alignnone size-medium wp-image-61930" src="http://al-basyariyah.com/wp-content/uploads/2020/05/IMG-20200507-WA0033-300x200.jpg" alt="" />Setiap manusia mempunyai kebutuhan, permasalahan, keinginan dan yang lainnya. Ketika kita membutuhkan semua itu, sudah seharusnya kita sebagai hamba yang lemah selalu meminta dan memohon kepada Allah SWT

Ramadhan merupakan bulan di mana Allah SWT sangat dekat kepada para hambanya dan akan sangat memperhatikan orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Pahala dilipatgandakan juga doa-doa insyaallah mustajab.

Di bulan ini, orang beriman mempunyai kesempatan luas agar doa dikabulkan dengan disediakannya waktu-waktu yang mustajab dalam setiap momentum Ramadan.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiga orang yang doanya tidak tertolak : orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR Ahmad).

Berikut 3 waktu diijabahnya doa,

1- Waktu sahur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).

2- Saat berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang
berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)

3- Ketika berbuka puasa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Setiap manusia mempunyai kebutuhan, permasalahan, keinginan dan yang lainnya. Ketika kita membutuhkan semua itu, sudah seharusnya kita sebagai hamba yang lemah selalu meminta dan memohon kepada Allah ......

previous arrow
next arrow
Slider

ABOUT US

Pondok Pesantren Al Basyariyah adalah Pondok Alumni Gontor yang didirikan pada tahun 1982 oleh Buya Drs. KH. Saeful Azhar, terletak di perkampungan tempat Eyang Cimindi keturunan Waliyullah Eyang Mahmud yang pada zamannya merupakan ulama tersohor di daerah Bandung Selatan.

Pondok yang didirikan dari nol ini, kini telah berkembang menjadi sebuah lembaga pendidikan yang memiliki luas tanah sekitar 17 ha. Kamar tempat mondok santri yang pada mulanya hanya sebuah gubuk yang sangat sederhana kini telah berjumlah ratusan lokal yang dapat menampung santri lebih dari 1500 orang. Selain itu, sebagai lembaga pendidikan yang dinamis dengan mengintegrasikan format pendidikan pesantren salafiyah dan khalafiyah, Pondok Pesantren Al Basyariyah telah mengalami kemajuan pesat lainnya. Alhamdulillah dalam perjalanan perjuangannya, Pondok Pesantren Al Basyariyah telah meluluskan ribuan alumni yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat khususnya dan wilayah nusantara umumnya.

Selengkapnya bisa dilihat di sini