08 Mar

previous arrow
next arrow
Slider

Kedatangan sejumlah mahasiswa serta dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor ke Pondok Pesantren Al-Basyariyah disambut hangat oleh segenap santri dan ustadz. Kunjungan mereka pada senin (4/3) sore itu tidak lain untuk mempererat kedekatan antar sesama pondok mu’adalah (pondok yang disetarakan dengan MTs atau MA)

Pondok Modern Darussalam Gontor yang sudah berdiri hampir satu abad ini berhasil mencetak kader-kader intelek. Al-Basyariyah adalah salah satu pondok alumninya yang sudah populer di Jawa Barat. Keduanya tidak pernah putus bersilaturrahmi dan bekerja sama demi terwujudnya generasi islami dari ranah pesantren

Mereka adalah siswa fakultas Tarbiyah (Pendidikan) jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang sedang menyempurnakan pendidikannya dalam rangka Studi Pengayaan Lingkungan (SPL). Selepas sholat isya berjamaah, majelis pimpinan dan peserta SPL melaksanakan acara utama yaitu sosialisasi pengenalan pondok yang telah didirikan oleh Buya, Drs. KH. Saeful Azhar sejak 1982 “Pondok ini menggunakan sistem pendidikan Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al-Islamiyah (TMI). Sistem yang mengajarkan santrinya tentang keagamaan tanpa ada jurusan seperti IPA, IPS, dan lain sebagainya. Dengan demikian santri tidak akan mempunyai ijazah negara. Namun, tak perlu khawatir karena kedudukan mu’adalah’ sudah disahkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Komarudin Amin pada SK No. 2791 tahun 2017.  Dan santri diwajibkan sekolah selama 6 tahun,”ujar Al-Ustadz H. Zen Anwar Saeful Basyari, S.Pd,I sebagai wakil pimpinanan ponpes Al- Basyariyah saat menyampaikan sambutan di meeting room pondok.

Al-Ustadz Endang Suhendi, S.Ag yang menjabat sebagai kepala sekolah  juga mengatakan kepada peserta SPL dalam sambutannya, “Kami adalah lembaga yang menitik beratkan disiplin dan akhlaqul karimah, barulah keilmuan setelahnya. Karena ilmu yang banyak tanpa adanya akhlaq yang baik bagaikan pohon tak berbuah.”

“Pengelolaanya juga dilaksanakan dengan disiplin yang sangat berbeda dari pondok-pondok lainnya, seperti Tahanuts (penjara) yang  sangat jarang sekali ditemukan di pondok lain,” ujarnya.

“Di luar sana banyak sekali pondok yang me-label­­-i dirinya sebagai pondok pesantren tapi tidak menjalankan sistem pesantren, artinya tidak menggunakan sistem pendidikan Mu’adalah,” ujarnya.

Acara tersebut kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab dan ditutup dengan ucapan terima kasih dari salah satu dosen fakultas Tarbiyah Al-Ustadz Aris Fahreza, M.Pd, ”Kesempatan baru bagi kalian siswa PAI semester empat untuk mengetahui sistem pendidikan pondok-pondok pesantren, khususnya pondok alumni Gontor. Kami ucapkan terima kasih banyak kepada ponpes Al-Basyariyah telah menyambut kami dengan sambutan yang sangat ramah dan fasilitas yang sangat nyaman. Terima kasih juga telah memperkenalkan pondok kepada kami sehingga kegiatan SPL ini menjadi lancar.”

 

 

 

Leave a Comment