• Buya dilahirkan dengan nama Udin, namun berganti menjadi Saeful Azhar saat sebelum belajar di Gontor.
  • Dalam peringatan milad, Buya selalu menjadikan tahun hijriyyah sebagai acuan
  • Pada tahun Tahun 1947, ayahanda Buya, KH. Ijazi yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Sirna Jaya (Al-Basyariyah I sekarang) meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, yaitu 38 tahun.
  • Buya, di saat mudanya pernah menjadi dosen di delapan perguruan tinggi, salah satunya di UIN.
  • Sebelum periode Al-Basyariyah, tenaga pengajar berasal dari mahasiswa yang lulus dari ma’hadiyah, dan sebelum itu hanya Buya dan Ummi yang mengajar.
  • Saat masih tinggal di Cibaduyut, Buya dan Ummi juga berdagang bahan-bahan pokok yang mereka beli dari Pasar Leuwi Panjang. Pernah suatu ketika Ust. Endang yang saat itu masih kecil diminta untuk membeli beras, gerak-gerik penjual yang mencurigakan membuatnya heran hingga akhirnya penjual tersebut kabur. Endang kecil lari mengejar hingga akhirnya uang tersebut dijatuhkan, ia mengambil kembali uang itu dan saat kembali ke pasar diketahuilah bahwa orang itu bukan pedagang melainkan penipu. Uang yang dibawanya adalah sebesar 250 ribu dan merupakan uang terakhir yang dimiliki Buya untuk memodali dagangannya.
  • Nama madrasah diniyah Sirna Jaya (sebelum didirikannya Al-Basyariyah) diambil dari lembaga pendidikan yang pernah didirikan oleh KH. Ijazi, ayahanda Buya. Salah satu murid yang tercatat pernah berada di bawah didikannya adalah Ust. Endang Suhendi, kepala administrasi santri putra.
  • TTK (Tanda Tamat Kitab) diberikan oleh Buya kepada mahasiswa lulusan ma’hadiyah yang sudah menyelesaikan studinya bersama beliau, dan TTK tersebut dijadikan lisensi untuk mengajar.
  • Madrasah diniyah Sirna Jaya berawal dari sistem sorogan, namun seiring bertambahnya murid dan lahan dimulailah sistem pembagian kelas.
  • Buya memerlukan tiga hingga empat kali pengajuan resign untuk bisa mundur dari pekerjaannya di departemen agama. Pada saat pengunduran itu, tak sedikit karyawan yang menangis karena Buya berpengaruh dalam mengajar hingga kedisiplinan di departemen agama.
  • Di antara jabatan di pemerintahan yang Buya tinggalkan setelah mundur dari Depag adalah jabatan kepala seksi urusan agama pada kantor Depag Bandung, jabatan sebagain guru atau dosen honorer di beberapa lembaga pendidikan dan perguruan tinggi, kecuali sebagai dosen UNPAS yang dilanjutkan sampai enam tahun setelahnya, jabatan-jabatan organisasi yang dibentuk oleh pemerintah yang dipercayakan kepada Buya, seperti jabatan ketua BP-4, P2A, MUI, MDUI dan empat organisasi lain, jabatan-jabatan pada organisasi masyarakat, dll.
  • Al-Basyariyah adalah nama pengganti dari Sirna Jaya. Nama itu dinisbatkan pada pemberi wakaf tanah kepada Buya, Abah H. Basyari.
  • Selama menjadi pegawai negeri, Buya pernah menjabat berbagai macam pangkat dari staf hingga penghulu. Di zamannya, penghulu adalah orang yang menentukan hukum-hukum dalam pernikahan, bukan sebatas pada pemecahan masalah saja.
  • Pada awalnya, Ma’hadiyah mengadopsi dengan kental pola pembelajaran salaf, tidak ada pelajaran berbahasa Indonesia, hanya kitab kuning saja.
  • Zaman dulu, penyebaran informasi adalah dengan cara mengirimkan para santri ma’hadiyah berpakaian muslim untuk menyebarkan brosur door to door. Namun hal itu kurang efektif karena dianggap seperti minta sumbangan, akhirnya sistem door to door tersebut tetap dilaksanakan namun santri diperintahkan untuk menggunakan baju pramuka demi memberikan kesan tegas.
  • Saat perubahan sistem dari MTs dan MA ke TMI, jumlah santri merosot begitu drastis. Tercatat dari yang sebelumnya 300 menjadi hanya delapan santri yang bertahan. Itulah hakikatnya angkatan pertama TMI yang salah satu alumninya adalah Ustadzah Ela Jamilah.
  • Perkembangan pesat di awal berdirinya Al-Basyariyah di Cibaduyut mengundang curiga warga sekitar. Pihak berwajib sampai melakukan penyelidikan untuk membuktikan bahwa Buya memang mendapat bantuan dari Uni Soviet, namun kecurigaan tersebut nihil. Ternyata pendapat demikian hanya menguap dari mereka yang iri kepada pesantren.
  • Al-Basyariyah hanya memerlukan 15 tahun untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Waktu yang cukup singkat bagi pesantren di zamannya.
  • Sejarah LPK (Lokasi Pondok Kholaf): Dengan menilik pada melonjaknya jumlah santri, maka dibuatlah sebuah gedung semi permanen yang berfungsi sebagai madrasah dari asrama yang terletak di Cibaduyut, lokasi ini disebut Pondok Kholaf, karena kholaf yang berarti modern, sesuai dengan almamater pondok yaitu sebagai pondok modern. Setiap tahunnya bangunan ini mampu menampung banyak santri yang datang.
  • Ketika pemindahan TMI dari Cibaduyut ke Cigondewah, kampus Cibaduyut digunakan sebagai raudhatul athfal dan Sekolah Dasar dengan Ust. Endang Suhendi sebagai kepala sekolah pertama sampai tahun 1993.
  • Sebelum perpindahan ke Cigondewah, agar tidak terjadi lagi penyerangan-penyerangan terhadap pondok, Buya akhirnya meminta persetujuan terlebih dahulu pada tokoh-tokoh yang berada di sekitar Cigondewah, mengatakan bahwa Buya ingin mendirikan pesantren. Pada awalnya Buya diterima, namun karena terusik oleh kepesatan perkembangan Al-Basyariyah, akhirnya penyerangan-penyerangan tersebut muncul. Salah satunya adalah pelemparan kotoran dan perusakan spanduk tentang pondok. Demi mengatasi hal itu, Buya melakukan pendekatan pada pembesar-pembesar daerah Cigondewah untuk membantu beliau dalam mengamankan pondok dari serangan-serangan orang tertentu.
  • Gaya hidup pesantren modern yang membolehkan santriwati memakai training menyebabkan adanya gangguan dari pemuda-pemuda sekitar, suasana perkampungan murni saat itu bertolak belakang dengan budaya sandang yang ada di pondok. Namun bukan Buya yang menyerah, tetapi warga sekitarlah yang ujungnya mengikuti budaya pondok.
  • Pernah suatu saat datang seseorang asing yang menawarkan bantuan dan berkata bahwasanya ia adalah utusan dari Arab Saudi. Dengan fasih ia menceritakan beragam hal dan meyakinkan bahwa pondok-pondok lain pun mendapatkan bantuan serupa. Ia menawarkan bantuan seniai 25 ribu dollar, sambil menunjukkan kelengkapan surat dan rekeningnya, orang tersebut berkata bahwa dana sekian itu tidak bisa disampaikan melalui negara demi menghidari pemotongan dalam jumlah besar. Yang mengherankan adalah, orang ini berkata bahwa dana tersebut hanya bisa disalurkan jika mengirimkan uang 7 juta ke rekening yang dibawanya, akhirnya Buya terpaksa menggunakan uang tabungan santri karena tak ada lagi kas yang dimiliki pondok. Namun pada akhirnya disadari bahwa itu hanyalah sebuah trik penipuan saja dan uang tabungan santri berhasil diselamatkan.
  • Satu-satunya kendaraan umum yang bisa mengantarkan penduduk ke kampus 2 di awal berdirinya pondok hanyalah ojek. Ojek saat itu mematok harga yang tinggi, sehingga menyeret Buya beserta beberapa orang lainnya untuk berkomunikasi dengan organisasi daerah dalam pengadaan angkutan umum (angkot), itulah salah satu sejarah mengapa angkot kuning jurusan Cipatik-Tega Lega melewati jalur pondok.
  • Tanah 20 tumbak yang merupakan awal langkah Buya membangun Al-Basyariyah 2 saat ini ditandai dengan tulisan “Tanah Cikal Bakal”. Tanah tersebut terletak di Rayon B, asrama santri putra.
  • Nama-nama bangunan pondok diambil dari para pemberi wakaf, guru-guru Buya dan juga nama leluhur Buya.
  • Endang Suhendi menceritakan bahwa beliau pernah dikejar oleh masyarakat yang membawa bedog, itu karena ada seorang santri yang secara diam-diam ikut kampanye partai politik yang kebetulan partai tersebut bersebarangan dengan ideologi masyarakat.
  • Di awal kepindahan santri ke Cigondewah, Buya hanya mendirikan sebuah tenda yang digunakan sebagai pusat untuk komando.
  • Buya pernah diminta untuk memimpin Pesantren Mas’udiyah selama setahun pada 1995.
  • Pada tahun 2013 lalu, Densus pernah menyerang teroris yang kebetulan bersarang di sebuah rumah yang terletak di sebelah barat Al-Basyariyah kampus 2, setelah ramai diberitakan, akhirnya pihak pondok angkat bicara dan menyatakan bahwa pondok tidak pernah ada hubungan dengan mereka dan tidak mengajarkan santrinya untuk radikal.
  • Semua anak-anak Buya memiliki nama “Nur” di tengahnya.
  • Zen Anwar, anak keenam Buya, memiliki nama yang artinya “penghias cahaya-cahaya”. Bukan tanpa maksud, nama itu dibuat karena ia merupakan satu-satunya anak laki-laki.
  • Buya suatu saat pernah tidak sengaja meninggalkan Ummi di pasar Banjaran ketika berbelanja. Bukan karena sengaja, hal itu karena Ummi yang saat itu baru selesai memasukkan belanjaan ke dalam mobil menutup pintu, yang dianggap oleh Buya sebagai suara Ummi yang masuk ke dalam mobil. Buya tidak menyadarinya hingga jauh sudah mendekati kampus Arjasari (yang jarak antara kampus dan pasar cukup jauh), akhirnya Buya meminta Ummi untuk naik angkutan umum saja.
  • Nama Bumi Jannah Iliyyin (BJI), yayasan yang mengatasi Al-Basyariyah diambil dari singkatan Buya dan Ummi, juga nama seluruh anak-anaknya.
  • Ketika pondok masih di Cibaduyut, terdapat sebuah penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) di Bandung yang para artisnya sempat mengunjungi Al-Basyariyah, salah satu yang diingat oleh Ust. Endang Suhendi adalah Deddy Mizwar. Hal itulah yang juga mendorong publisitas pondok di zaman dahulu.
  • Presentasi lonjakan jumlah pendaftar terbesar adalah tahun 2013 pasca muncul berita tentang teroris yang bersarang di daerah sekitar pondok, sedangkan jumlah terbesar adalah pada tahun 2015 dengan jumlah pendaftar menembus angka 600.
  • Buya memiliki sebuah bagan yang menghubungkan nasabnya langsung ke Nabi Muhammad SAW. Dikatakan bahwa bagan ini diambil dari catatan yang terdapat di daerah Mahmud.